Kamis, 05 November 2009

Exposure pada DSLR

Kategori: Teori Dasar Fotografi

Exposure

Eksposure / pencahayaan adalah: banyaknya sinar yang diterima oleh sensor / film. Apabila kurang sinarnya maka foto akan terlihat cendrung gelap / under, sedangkan apa bila kelebihan maka foto akan terlihat cendrung keterangan / over...
Pencahayaan sendiri merupakan kombinasi antara aperture yaitu besar kecilnya bukaan diafragma, dan shutter speed yaitu lamanya bukaan rana, dan terakhir ISO / iternasional standard organization atau ASA / american standart association yang dalam hal ini merupakan standard internasional untuk tingkat kepekaan sensor / film...
Eksposure ini sendiri sering dianalogi kan seperti kita hendak mengisi gelas dengan air dari keran... Dimana putaran keran tersebut diibaratkan dengan aperture, lama keran dibuka diibaratkan dengan shutter speed, gelasnya diibaratkan dengan ISO, tekanan air diibaratkan dengan intensitas penerangan (terang atau low light), dan terakhir airnya diibaratkan dengan sinar... Maka jika keran kita buka lebar maka gelas akan cepat penuhnya... Sedangkan kalo keran kita kecilin maka gelas akan lebih lama penuhnya... Dan ketika kita pake gelas besar (iso rendah) maka kita juga akan semakin lama mengisi gelas tersebut, beda dengan jika gelasnya kita kecilin (iso tinggi) maka gelas tersebut akan lebih cepat penuhnya... Tapi tetap air yang digelas besar lebih banyak dari yang di gelas kecil... Begitu pula tekanan air, semakin tinggi tekanan air (kondisi penerangan terang), atau semakin kecil tekanan air (low light) akan berpengaruh kepada waktu pengisian... Namun terkadang sebelum gelas penuh kita sudah menyetop keran maka terjadilah keadaan under... Atau malah sebaliknya walau gelas sudah penuh tapi keran belom kita tutup maka terjadilah keadaan over...

Enaknya pada zaman sekarang eksposure ini sudah dihitung otomatis oleh camera dengan system yang namanya metering. Matering ini bekerja seperti light/flash meter. Bedanya system ini hanya mampu mengukur continous light saja... Dan keuntungan tekhnologi sekarang lainnya adalah foto kita bisa dianalisa dari histogram pada camera... Sedangkan kalo zaman dulu seorang fotografer harus membawa segepok catatan yang berisikan hal-hal seperti kalo foto siang hari bolong aperture dan shutter speednya berapa pada iso sekian, terus kalo ada awannya jadi sekian, kalo sore sekian, dst...

Nah prinsip kerja dari metering ini sendiri yaitu menentukan eksposure warna abu-abu 18% (sesuai gray card) pada suatu kondisi penerangan... Makanya apabila kita memotret benda atau keadaan dominan putih / terang / hi key akan terlihat abu-abu/gelap pada foto kita, dan apabila kita memotret benda dominan hitam / gelap / low key juga akan terlihat abu-abu / pada foto kita lebih terang dari keadaan sebenarnya... Dan makanya di camera kita ada exposure compensation (pada kelas dua digit angkanya -2 s.d. +2). Kesimpulannya, kalo mau memotret dengan exposure yang pas (corect exposure) ya ukur/ metering lah pada gray card yang diletakkan pada tempat penerangan yang mau kita ukur exposurenya... Masalah lainnya adalah jika contras antara tempat yang paling gelap atau terang menyebabkan sudah tidak tertangkap lagi ditail pada tempat gelap atau terang tersebut, berarti anda harus memilih antara tetap pada exposure itu atau mengorbankan salah satunya (mempertahankan ditail di tempat gelap atau di tempat terang)... Sukur-sukur kalo tempat gelapnya tidak luas dan bisa kita angkat (fill in) dengan penerangan buatan seperti flash... Pada saat kontras tinggi inilah dibutuhkannya camera dengan cakupan dynamic range yang luas atau menggunakan tekhnik edit yang biasa kita sebut HDR...

Kembali ke komponen dari exposure:

A. Aperture
Aperture memiliki angka sebagai berikut (untuk pergeseran 1 stop): ...1; 1,4; 2; 2,8; 4; 5,6; 8; 11; 16; 22; 32;... Maksud angka diatas sendiri adalah lubang yang terbuka pada lensa kita seper atau 1/ (angka diatas) dari luas lensa kita... Yang perlu dicermati bagaimana aperture mempengaruhi foto kita yaitu semakin lebar aperture dibuka (angka kecil) maka akan semakin sempit/pendek DOF/ruang tajam yang kita dapatkan... Dan semakin sempit lubangnya (angka besar) maka akan semakin panjang DOF/luas ruang tajam yang kita dapatkan...
Ada teori mengatakan bahwa suatu lensa itu akan maksimal lensanya dalam merekam subject apabila aperturnya diset sekitar 3 stop lebih sempit dari apertur terluasnya... Contoh: jika lensa dengan bukaan terlebar 2,8; maka foto terbeningnya akan kita temukan pada bukaan 8...

B. Shutter Speed
Ada pun angka pada shutter speed adalah sebagai berikut (untuk pergeseran satu stop): ...8000, 4000, 2000, 1000, 500, 250, 125, 60, 30, 15, 8, 4, 0'5, 1', 2', 4', 8', 15', 30', bulb (selama shutter ditekan camera akan terus merekam)... Maksud angka diatas sendiri adalah seper atau 1/ (angka diatas)detik dan detik untuk tanda '. Yang perlu dicermati bagaimana speed mempengaruhi foto kita yaitu: dengan speed tinggi subject bergerak (apalagi diam) akan terlihat beku sehingga terlihat tajam... Sedangkan pada speed rendah motion (gerakan) dari subject bergerak juga akan terekam oleh camera... Dan kalau dilamakan lagi pada saat tertentu benda bergerak tidak akan terekam sama sekali oleh camera (tidak ada pada foto)...
Nah untuk menentukan speed sendiri agar foto kita freze (beku) dan tajam ada dua hal yang harus diperhatikan:

B1. Speed minimal untuk membekukan gerak subject (subject motion)
Pada dasarnya macam-macam tingkat shutter speed untuk membekukan subject... Hal ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan dari si subject sendiri... Seperti kalo motret orang yang sedang pose mungkin dengan 0,5 detik tetap beku... Tapi speed segitu belom tentu beku kalo orangnya jalan... Antara jalan dan lari juga beda speed untuk membekukannya... Gerakan di atas panggung mungkin beku pada speed 1/125dtk... Tapi mungkin belom bisa membekukan motor dijalanan... Begitu pula dengan orang yang sedang balapan tentu harus lebih cepat lagi speed untuk membekukannya... Namun selain dari kecepatan subject sendiri, ada hal lain yang juga ikut mempengaruhi yaitu jarak subject kita dan arah gerakannya... Semakin dekat subject semakin cepat gerakannya... Ini alasan kenapa pesawat terbang yang begitu kencang tetapi terlihat pelan ketika di langit... Karena jaraknya emang jauh... Kalo arah gerakan subject mendekati atau menjauhi kita akan beda kecepatannya ketika si subject bergerak sejajar dengan pandangan kita...

B2. Speed minimal untuk melakukan pemotretan dengan cara hand held (dengan cara memegang kamera tanpa tumpuan atau tripod)
Pada prinsipnya makin panjang focal length yang kita gunakan maka akan makin gampang gerakan pada camera kita, yang akan ikut terekam pada foto... Makannya rumus hand held ini dikaitkan dengan panjang focal length yaitu speed = 1/(panjang focal length). Nah disinilah IS (image stabilizer) itu sangat berperan... IS sendiri menurut analogi saya prisipnya sama dengan shockbreaker pada mobil... Tekhnologi berperan untuk meredam getaran yang terjadi... Mungkin yang sering jadi pertanyaan bagusan mana sih IS pada lensa apa pada body... Kalo menurut pendapat pribadi saya analoginya sama ketika shock pada motor berpindah dari per dibawah kursi menjadi dekat roda... Makin dekat peredamnya ditaruh ke sumber makin efisien kerjanya... Ya tentu IS pada lensa lebih bagus karena gerakan sinar lebih duluan masuk di lensa baru diteruskan ke sensor... Namun IS juga memiliki keterbatasan dalam meredam getaran... Nah disaat speed sudah terlalu lambat inilah kita harus menggunakan tripot... Sebenarnya fungsi tripod ada dua, yang satunya akan saya jelaskan pada bagian focusing... Satu hal yang perlu di ingat, matikan IS jika anda memotret menggunakan tripod.
Yang perlu ditekankan di sini:
- IS dan Tripod hanya untuk meredam getaran pada camera... Tapi tidak untuk membekukan subject...
- Tidak semua foto itu harus freeze, karena ada beberapa foto yang memang indah jika kita menggunakan speed rendah seperti memotret aliran sungai agar terlihat seperti kapas, memotret lampu mobil yang sedang ada di jalan, dan bahkan dalam aksi panggung akan lebih indah juga jika motionnya sedikit tertangkap.
- Bahkan ada tekhnik motret dimana kamera sengaja digoyang pada saat speed rendah...

C. ISO
Angka dari ISO sendiri yaitu (untuk perubahan 1 stop): ...50, 100, 200, 400, 800, 1600, 3200, 6400,... Semakin tinggi angka ISO maka akan semakin sensitif sensor / film apabila terkena sinar... Yang perlu diketahui bagaimana ISO mempengaruhi foto kita yaitu: iso lebih tinggi akan cenderung menyebabkan foto lebih noise dan memiliki kekasaran grain, kurang kontras, kurang resolusi...
Sedikit tambahan untuk angka-angka di atas yang berhubungan dengan stop adalah sebagai berikut: ketika anda memotret dengan exposure speed 60, diafragma 8, dan ISO 100... Ternyata anda beranggapan subject anda kurang beku dan memutuskan untuk menaikkan speed menjadi 125 (1 stop)... Untuk mendapat nilai eksposure (gelap terang yang sama pada foto) berarti anda harus melebarkan bukaan diafragma anda menjadi 5,6 (dari 8 menjadi 5,6 = 1 stop) atau anda harus menaikkan iso anda menjadi 200 (naik 1 stop)... Nah inilah faktor teknis yang membuat karya tiap fotografer itu berbeda-beda... Dalam kondisi tertentu ada fotografer yang lebih suka mengorbankan speed, ada yang mengorbankan ruang tajam, dan ada yang lebih toleransi terhadap noise yang ada pada foto mereka... Disinilah anda memberikan keputusan ingin menggunakan mode yang mana pada kreatif zone... Kalo prioritas anda pada diafragma misalnya karena anda ingin mendapat DOF yang stabil gunakan mode aperture priority karena aperture anda akan selalu tetap dan speed anda secara otomatis akan dicarikan camera... Tapi kalo prioritas anda pada speed misalnya karena ingin selalu subjectnya beku, gunakan mode speed priority karena speed anda akan selalu tetap sedangkan aperture akan ditentukan secara otomatis oleh camera... Kalo terjadi mentok dimana contohnya pada stelan speed priority, anda tetapkan anda ingin memotret pada speed 125... angka exposure anda pada metering camera menunjukkan angka 2,8 dan anda sedang menggunakan lensa dengan f terlebarnya maximal 2,8. Lalu angka tersebut berkedip-kedip, ini menandakan pada tingkat iso yang sedang anda gunakan keadaannya masih under walaupun settingan otomatis yang dicarikan oleh kamera (dalam hal ini aperture) sudah maksimal... Berarti anda harus menaikkan ISO sampai aperturnya tidak berkedip lagi agar exposure yang anda dapatkan pas... Biasanya ketika berkedip kalo anda paksa untuk memotret tanpa merubah ISO, maka speednya akan menyesuaikan sendiri yang pada kasus ini ke speed yang lebih rendah walaupun anda sedang menggunakan mode speed priority...
O ia, apabila anda ragu terhadapa nilai exposure yang anda ingin kan, ada baiknya anda melakukan braketing (AEB = auto exposure baketing)... Yaitu sebuah fasilitas dari camera dimana pada tiga frame yang kita foto akan terdapat ukuran under, ukuran yang pas menurut camera, dan ukuran over... Berapa stop under dan overnya pun dapat kita stel... Jadi setiap subject foto harus kita potret tiga kali, dan kita akan memperoleh tiga foto dengan exposure berbeda...
salam, selamat mencoba...

Rabu, 04 November 2009

seri jembatan grand wisata

nah ini dia nih...salah satu lokasi pemotretan dimana gw diudak-udak anjing...eh jasa marga en polisi deng hehehehe...salah gw juga siy yang maen asal jepret kaga ada izin...abis kepepet waktu...alhasil ID Card gw n KTP Pemred gw jadi "surat sakti" buwat alat "tolak bala" hahahaha...daripada kamera gw yang di barter hahahaha....

seri jembatan grand wisata


jembatan doyong jadi makin doyong wakakakakak...salah satu jembatan favorit gw niy...

seri jembatan grand wisata

detail fisik jembatan yang katanya kuwat hingga 100 tahun...gmn dengan suramadu yang bautnya udah pada raib ya...

marba house

salah satu sudut kota tua di semarang...ngebet kepingin punya kamera IR...berhubung kantong jebol, jadi di uprek-uprek aja di warungfoto ( photoshop =D )

Seri Tawon Soliter / Hymenoptera

si jantan yang tinggal menghitung hari menunggu mati setelah kawin...kasian amat ya...enaknya sekali doang wakakakakak....

Seri Tawon Soliter / Hymenoptera


fondasi rumah kost yang tahan gempa....

Seri Tawon Soliter / Hymenoptera


beberapa larva yang mulai menempati kamar kost...

Seri Tawon Soliter / Hymenoptera

menyelesaikan sarang...15 menit kemudian jidat gw bengkak di sengat...kampret...!!!

Seri Tawon Soliter / Hymenoptera


tawon soliter kebanyakan dikenal sebagai parasit karena menaruh telur pada tubuh serangga lain sehingga larvanya hidup dari persediaan makanan inangnya. seri tawon soliter saat ini menampilkan sosok tawon yang berkembang biak dengan menaruh larvanya pada sarang yang terbuat dari cairan sejenis lilin. cairan tsb dihasilkan oleh kelenjar yang ada di tubuhnya.

Kamis, 30 Juli 2009